Friday, March 21, 2025

PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN MAHASISWA KATOLIK REPUBLIK INDONESIA (PMKRI) CABANG PALANGKA RAYA TERHADAP REVISI UNDANG-UNDANG TNI

 

gambar Ilustrasi


Pro Ecclesia Et patria….

Hidup Mahasiswa….

Sehubungan dengan pengesahan revisi undang-undang TNI baru ini Kami PMKRI Cab Palangka Raya menilai.

Reformasi 1998 adalah titik balik bagi bangsa ini, Sebuah perjuangan berdarah yang menumbangkan otoritarianisme dan mengantarkan kita pada era demokrasi yang menjunjung tinggi supremasi sipil. Namun, hari ini, reformasi itu sedang dihadapkan pada ancaman besar.

Revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) yang baru saja digulirkan adalah langkah mundur yang akan menyeret Indonesia kembali ke masa kelam. Dengan memberikan ruang lebih besar bagi militer di ranah sipil, revisi ini adalah bentuk nyata dari upaya menghidupkan kembali DWIFUNGSI ABRI.

Kami, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palangka Raya, dengan penuh ketegasan MENOLAK revisi UU TNI yang mengancam demokrasi dan supremasi sipil, Kami melihat revisi ini sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan bangsa ini. Dampak dari pengesagan ini antara lain :

Membuka Celah Militerisme dalam Pemerintahan dengan memperbolehkan perwira aktif TNI menduduki jabatan sipil strategis, revisi ini mengkhianati prinsip reformasi yang telah membatasi peran TNI hanya dalam bidang pertahanan. Jika ini dibiarkan, maka tak ubahnya kita membuka gerbang bagi militerisme untuk kembali mencengkeram pemerintahan.

Merampas Hak-Hak Sipil dan mengkerdilkan demokrasi, padahal demokrasi yang sejati adalah demokrasi yang berlandaskan supremasi sipil. Kami menilai juga melalui revisi ini, pemerintah secara sadar telah menyiapkan jalan bagi militer untuk kembali mencampuri urusan politik dan sipil, merampas hak-hak rakyat dalam mengawasi jalannya pemerintahan.

Dengan sengaja pemerinta telah mengabaikan transparansi dan partisipasi publik, dalam proses legislasi revisi UU TNI dilakukan secara tertutup dan terburu-buru, tanpa melibatkan partisipasi publik yang memadai. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keterbukaan yang menjadi pilar utama dalam demokrasi. Negara ini bukan milik segelintir elit, tetapi milik rakyat….

Deri pengesahan UU TNI kami juga melihat telah tenciptakan ketimpangan dan tumpang tindih kewenangan dengan memengan memperluas tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP), TNI kini dapat terlibat dalam berbagai sektor yang sebelumnya menjadi ranah sipil, termasuk penanganan bencana, pemberantasan narkotika, bahkan bidang perikanan. Ini bukan hanya merusak tatanan pemerintahan, tetapi juga mengancam keberadaan institusi sipil yang telah bekerja secara profesional dalam bidangnya masing-masing.

Membuka Jalan bagi Oligarki Militer dengan memperpanjang usia pensiun perwira TNI, revisi ini hanya akan memperkuat oligarki dalam tubuh militer itu sendiri… Ini bukan hanya menghambat regenerasi, tetapi juga membuka ruang bagi terjadinya monopoli kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi yang sehat.

Atas dasar ini, melihat situasi demokrasi bangsa yang bergerak menuju kemunduran, dengan penuh kesadaran kami PMKRI Cabang Palangka Raya dengan lantang menyatakan:

1. Mendesak DPR RI untuk segera membatalkan dan mencabut revisi UU TNI yang memperluas peran TNI di ranah sipil.

2. Menuntut komitmen pemerintah untuk menjamin tranparansi dan partisipasi publik dalam setiap proses legislasi yang menyangkut kepentingan bangsa dan negara.

3. Menolak segala bentuk upaya yang mengarah pada kemunduran demokrasi dan kembalinta militerisme dalam pemerintahan.

4. Mendorong supremasi sipil yang kuat dan independen sebagai pilar utama dalam demokrasi yang sehat.

Melalu pernyataan ini kami tegaskan, PMKRI Cabang Palangka Raya akan terus mengawal dan berjuang agar reformasi yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata tidak dikhianati oleh kepentingan segelintir elit.

 

Proo Ecclesia Et Patria !!!

Hidup Mahasiswa !!!

Hidup Rakyat Indonesia !!

Selamatkan Demokrasi! Tolak Militerisme di Ranah Sipil !!!

Sunday, February 9, 2025

Tuhan Dalam Sepiring Babi

Di sore hari itu saat warna langit perlahan menjadi jingga, obrolan santai dengan papan catur seperti biasa mengisi hari-hari kami di tengah kesibukan. Di rumah ketua jhon sapaan akrab kami untuk seseorang aktivis dan pembaca buku pada zamannya. Diskusi random kami mulai. Bahasan kami sederhana kadang soal mimpi masa depan, kadang soal sejarah, politik, bahkan tak jarang kami asik bergurau tentang cinta. 

Obrolan asik kami sore itu tiba-tiba terhenti saat bunyi azan magrib terdengar dan takalah juga nyaringannya bunyi dari perut sixpacek ku ini pertanda isinya kosong alias keroncongan. Lantas diskusi sore itu terheti dan langsung di sambut dengan gelak tawa. 

Lalu ketua Jhon yang kala itu kalah kubatai 3 : 1 di atas papan catur pun spontan mengaja kami makan "gass makan kita, karena perut kosong pertanda jiwa yang kekurang asupan cinta, sebelum lanjut membahas taktik menakluki cinta mari kita isi perut itu" ujarnya sambil ketawa ngakak. Pikirku dalam hati "memang tak salah beliau ini di juluki pujangga kampus pada masanya". 

Sembari menyiapkan piring makan, rupanya satu kuali masakan babi yang di hidangkan ketua jhon di hadapan kami, aromanya melayang-layang bagai siluet dengan taburan rempah-rempah ala masakan di kampung halaman.

"Ketua jhon memang tak pernah gagal kalau urusan masak" gurauku sembari menyendok daging babi kedalam piring yang sudah siap dengan nasi hangat. Obrolan kami berlanjut, suapan demi suapan potongan daging babi perlahan aku masukan kedalam mulut tak ingin melewatkan rasa dari setiap hela bumbu kuning yang gurih itu. 

Tak sampai beberapa suapan seorang teman bernama mister Gorby nyeletup dengan candaan nya " semoga Tuhan tidak melihat kita, karena daging ini enak tapi haram" candanya sambil ketawa. "Dimana kh Tuhan itu berada?" Sambungnya bertanya. 

Lalu dengan penuh keyakinan teman lainnya lagi bernama fepen menjawab, “Tuhan ada di atas sana, di surga. Tuhan ada dalam kitab suci. Tuhan ada dalam aturan yang Ia turunkan kepada kita.” 

Akupun tertawa kecil. “Jika Tuhan ada di surga, apakah itu berarti Ia tidak ada di sini? Jika Tuhan hanya ada dalam kitab suci, apakah itu berarti Ia tak hadir dalam hati manusia? Jika Tuhan hanya ada dalam aturan, apakah itu berarti Ia hilang saat aturan tak ada?” 

Fepen mengernyit, merasa keheranan. “Tuhan ada di mana-mana,” jawabnya lebih hati-hati. 

Akupun saat itu mengangguk. “Jika Tuhan ada di mana-mana, maka bukankah Ia juga ada dalam sepiring babi ini?” 

Fepen terperangah. “Itu tidak mungkin, Tuhan tidak ada dalam sesuatu yang haram.” 

Akupun tersenyum lagi. “Jadi Tuhan terbatas? Tuhan hanya ada dalam yang suci dan tidak ada dalam yang kotor? Tuhan hanya ada dalam yang halal dan tidak ada dalam yang haram? Tuhan hanya ada dalam aturan, tetapi tidak ada dalam kasih sayang?” 

Fepen itu terdiam. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pemikirannya, tetapi tak tahu bagaimana menjelaskannya. 

Berselang sekitar 30 menit berlalu hidangan lezat itupun ludes kami santap, selesai beres-beres kami pun pulang kerumah kami masing-masing. 

Sampai di rumah akupun merenungi obrolan kami sore tadi dan ingat dengan fenomenas sosial manusia masa kini. 

Dalam hati aku bergumam sendiri "Manusia memang aneh sering kali memuja Tuhan, tetapi dalam waktu yang sama, mereka berusaha membatasi-Nya. Mereka menempatkan Tuhan di tempat yang tinggi, lalu dengan keangkuhan, mereka bertindak seolah mengetahui segala isi hati-Nya. Mereka mengutip kitab suci, meneriakkan ayat-ayat, lalu menggunakannya sebagai pedang untuk menghakimi orang lain. 

Namun, apakah manusia benar-benar mengenal Tuhan, atau hanya mengenal gambaran Tuhan yang telah mereka ciptakan sendiri? 

Jika Tuhan memang sebesar yang mereka katakan, mengapa mereka merasa perlu membela-Nya dengan amarah? Jika Tuhan memang Maha Segalanya, mengapa mereka bertindak seolah-olah tanpa mereka, Tuhan akan kehilangan kekuasaan-Nya?" 

Mungkin, di sinilah ironi terbesar manusia: mereka menyebut nama Tuhan, tetapi tak pernah benar-benar mencarinya. Mereka beribadah setiap minggu, tetapi lupa bertanya, “Siapa Tuhan itu sebenarnya?” 

Misteri ini ber abat-abat lamanya tak tersentuh dan tak terjawab oleh manusia. 

Pada malam itu aku menatap langit, lalu menutup matanya. Aku merasakan angin, mendengar suara langkah kaki, merasakan detak jantungku sendiri. 

Lalu bergumam dalam hati "Tuhan tidak ada di langit. Tuhan tidak ada dalam aturan. Tuhan tidak ada dalam penghakiman. Tuhan ada dalam setiap embusan napas, dalam setiap detak kehidupan, dalam cinta yang tak bersyarat. Tuhan ada dalam kepedulian yang tak menghakimi, dalam pengertian yang melampaui kata-kata, dalam misteri yang takersentuh oleh pikiran manusia. 

Dan mungkin, di sanalah Tuhan mulai berbicara bukan dalam suara yang menggelegar, bukan dalam amarah yang berkobar, tetapi dalam keheningan yang mengajarkan kebijaksanaan. 

Aku berfikir mungkin, selama ink letak paradoks terbesar: manusia ingin memahami Tuhan, tetapi Tuhan terlalu besar untuk dipahami. Segala konsep yang kita buat tentang-Nya hanyalah bayangan redup dari sesuatu yang tak terjamah. 

Kita membangun hukum-hukum untuk mendekat kepada-Nya, tetapi sering kali hukum-hukum itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Kita ingin merasakan kehadiran-Nya, tetapi terlalu sibuk mencari-Nya di tempat yang salah. 

Di akhir hari, mungkin Tuhan tidak ada dalam aturan, tidak ada dalam batasan, tidak ada dalam penghakiman. Mungkin Tuhan ada dalam momen sederhana seperti sore tadi, dalam kasih yang diberikan tanpa pamrih, dalam senyum seorang asing, dalam kehangatan makanan yang disantap dengan rasa syukur. 

Dan mungkin, ya mungkin, Tuhan juga ada dalam "Sepiring Babi" bukan dalam dagingnya, bukan dalam statusnya, tetapi dalam kesadaran bahwa keilahian tidak bisa dipenjara oleh batasan manusia. 

Akhir kata tulisan ini sengaja aku buat, bukan dengan maksud menyinggung siapapun atau kelompok manapun, melainkam semata-mata untuk membuktikan bahwa kebebasan berfikir itu sungguh ada segaligus menjadi anak panah kritik untuk semua orang.

Oleh : 

Fardoari Reketno

Presidium Gerakan Kemasyarakatan


Thursday, December 5, 2024

"Menanamkan Karakter Berintergritas Untuk Membangun Identitas Diri"








 Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palangka Raya "Sanctus Dionisius" menyelenggarakan Masa Bimbingan (MABIM I) dengan tema "Menanamkan Karakter Berintegritas untuk Membangun Identitas Diri"

Pembukaan Kegiatan ini berlangsung di Gedung Komisi Keuskupan Palangka Raya, Jl. Tjilik Riwut pada Kamis, 5/12/2024.

Rangkaian pembukaan Masa Bimbingan (MABIM) I ini turut dihadiri sejumlah tamu undangan, dalam hal ini Dewan Pendamping, Anggota Penyatu, Komda Pemuda Katolik Palangka Raya, WKRI DPC Santa Maria Palangka Raya, KMK ST. THOMAS AQUINAS, BEM STIPAS, GMKI Palangka Raya, Happinas Palangka Raya, Hipmapa Palangka Raya, Anggota Biasa dan DPC PMKRI Palangka Raya.

Ketua Panitia, Tista Kamala dalam laporanya menyampaikan bahwa peserta MABIM I berjumlah 15 peserta. Semua peserta berasal dari berbagai universitas atau perguruan tinggi yang berbeda di Kota Palangka Raya, tidak lupa ketua pelaksana mengucapkan limpah terima kasih kepada para senior, Donatur dan panitia pelaksana dalam mensukseskan kegiatan ini. Ketua Panitia MABIM I Tista Kamala mengatakan, agar peserta bisa semangat mengikuti kegiatan kaderisasi tingkat II. 

"Jika berproses merupakan hal yang sulit, maka perjuangan adalah bukti cinta kami berada disini" ucap Tista Kamala.







Matius Valentino Jehatut selaku Ketua Presidium Cabang Palangka Raya dalam sambutannya menyatakan seluruh rangkaian kegiatan Masa Bimbingan (MABIM) I akan dilaksanakan tanggal 6 Desember sampai tanggal 8 Desember 2024. 

Matius menegaskan aspek nilai-nilai integritas yaitu: jujur, tanggung jawab, disiplin, mandiri dan kerja keras.

Eksitensi MABIM bukan lagi pengangkatan dari anggota muda menjadi anggota biasa, bukan lagi diizinkan menggunakan baret, akan tetapi juga mampu untuk mengatasi masalah, menjawab tiap persoalan dan memberikan sumbansi yang nyata lanjutnya.







Freddy  Simamora ST, selaku pendamping PMKRI periode 2024-2025.

Menegaskan bahwa MABIM tidak hanya dilakukan hari ini, tetapi sudah dimulai dari pasca MPAB, jika tidak mengikuti dengan baik tidak boleh mengikuti MABIM. Mencari kader potensial menjadi siap pakai, mengutamakan kualitas kader bukan kuantitas kader, selamat dan sukses dalam mengikuti MABIM.








Ir. Antonia Kupa selaku dewan pertimbangan menyampaikan tidak mudah berproses untuk menanamkan integritas. Mulai dari PMKRI kita bersama-sama membangun integritas.

Harus terlihat nya kualitas bahwa PMKRI berbeda dengan mahasiswa katolik lainnya. Tetap belajar menjadi orang yang berguna bermanfaat dan menginspirasi bagi orang banyak, selamat dan semangat mengikuti MABIM pesannya.








Pastor Alfonsus Danang Widhianggoro, Pr, Selaku Pastor moderator PMKRI Cabang Palangka Raya. Menegaskan, jika kita tidak memiliki hati untuk mengikuti PMKRI, hati untuk gereja, dan hati untuk masyarakat itu akan sia-sia.

Kita akan semakin dikuatkan kerena adanya iman.

Selamat berproses untuk peserta MABIM. Romo berpesan maju terus pantang mundur untuk membangun gereja, keuskupan Palangka Raya terutama di Kalimantan Tengah, bukan untuk kita saja tetapi semua masyarakat.







Dan diakhir kegiatan panitia menampilkan tarian dengan judul "Himba Pambelum".


Penulis : Divisi Dokumentasi dan Publikasi (Terayana)


Monday, November 25, 2024

Tantangan dan Pandangan Gereja terhadap Pemilih Pemula dalam Pilkada Serentak 2024

Tantangan dan Pandangan Gereja terhadap Pemilih Pemula dalam Pilkada Serentak 2024

Tantangan dan Pandangan Gereja terhadap Pemilih Pemula dalam Pilkada Serentak 2024

Penulis: Yustinus Dwi Andriyanto 

(Dosen STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya)


Pemilih pemula memiliki peran strategis dalam Pilkada Serentak 2024. Mereka adalah generasi muda yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya, dan jumlah mereka yang signifikan menjadikan suara mereka sebagai penentu arah pembangunan daerah di masa depan. Namun, di tengah potensi besar ini, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan, yaitu kecenderungan apatisme, pengaruh kuat media sosial, dan kurangnya minat untuk menganalisis visi-misi calon kepala daerah.

Persoalan Pemilih Pemula

Apatisme dikalangan pemilih pemula sering kali disebabkan oleh minimnya pemahaman tentang pentingnya partisipasi politik. Banyak dari mereka yang merasa bahwa politik adalah ranah yang jauh dari kehidupan sehari-hari atau sudah tercemar oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Selain itu, arus informasi yang cepat dan tidak terfilter di media sosial membuat mereka rentan terhadap hoaks, politik identitas, atau kampanye manipulatif. Akibatnya, keputusan memilih sering kali didasarkan pada popularitas calon, bukan pada visi-misi yang ditawarkan.

Ketidakpedulian untuk menganalisis visi dan misi calon kepala daerah dapat berdampak buruk. Pemimpin yang terpilih mungkin tidak memiliki keberpihakan pada nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan bersama yang diajarkan oleh Gereja. Hal ini dapat menghambat upaya menciptakan tatanan masyarakat yang sejalan dengan prinsip-prinsip moral Kristiani. Ketidakpedulian dalam menganalisis visi dan misi calon kepala daerah adalah persoalan serius yang berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi masyarakat, terutama jika pemimpin yang terpilih tidak memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan bersama. Dari sudut pandang Gereja Katolik, pemilihan pemimpin bukan hanya soal administratif atau formalitas politik, tetapi merupakan bagian integral dari tanggung jawab moral dan sosial umat beriman.

Ketidakpedulian dalam memilih calon yang berkomitmen pada keadilan dapat menghasilkan kepemimpinan yang hanya memperkuat ketimpangan sosial, korupsi, atau bahkan penindasan terhadap kelompok tertentu. Misalnya, seorang pemimpin yang tidak menjunjung kebenaran cenderung mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok, bukan demi kebaikan bersama. Dampaknya bisa berupa kebijakan publik yang tidak manusiawi atau diskriminatif, yang bertentangan dengan nilai Kristiani.

Pemimpin yang tidak memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat cenderung gagal menghadirkan solusi atas permasalahan mendasar, seperti kemiskinan, pendidikan, atau layanan kesehatan. Padahal, Yesus sendiri mengajarkan untuk mengutamakan mereka yang miskin dan tersisih (Luk. 4:18). Gereja memandang bahwa pemimpin daerah harus mampu menjadi pelayan yang peduli pada kebutuhan warganya, bukan sekadar pemegang kekuasaan.

Ketidakpedulian untuk menganalisis visi dan misi calon juga mencerminkan kurangnya pemahaman akan panggilan Gereja untuk terlibat dalam transformasi sosial. Gereja, melalui dokumen Christifideles Laici, mengingatkan bahwa umat beriman awam dipanggil untuk menguduskan dunia, termasuk dalam bidang politik. Membiarkan kepemimpinan jatuh ke tangan mereka yang tidak berkomitmen pada nilai-nilai Kristiani berarti mengabaikan panggilan tersebut.

Pandangan Gereja tentang Peran Pemilih

Gereja Katolik menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam kehidupan politik sebagai bentuk nyata dari tanggung jawab sosial. Dalam Kompendium Ajaran Sosial Gereja, disebutkan bahwa setiap orang Kristen dipanggil untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat yang adil dan bermartabat (Kompendium ASG, 565). Hak pilih adalah salah satu cara konkret umat beriman untuk mewujudkan panggilan ini.

Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti juga menegaskan perlunya membangun persaudaraan universal dan mengupayakan kepemimpinan yang mengutamakan kesejahteraan umum, bukan kepentingan kelompok tertentu (FT, 154). Oleh karena itu, pemilih pemula harus memilih pemimpin yang memiliki komitmen terhadap keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan bersama.

Dalam tradisi sosial Gereja, keadilan dan kebenaran adalah dua pilar utama dalam membangun masyarakat yang bermartabat. Gereja mengajarkan bahwa pemimpin memiliki peran profetis untuk memastikan bahwa setiap individu, terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan, diperlakukan secara adil. Dalam dokumen Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan), Gereja menekankan bahwa "struktur sosial dan politik harus dirancang untuk melayani martabat manusia dan kesejahteraan semua orang" (GS, 26).

Gereja memahami politik sebagai sarana untuk mencapai bonum commune atau kesejahteraan bersama. Dalam Kompendium Ajaran Sosial Gereja (565), dijelaskan bahwa politik adalah bentuk cinta kasih yang diwujudkan dalam kehidupan publik. Oleh karena itu, memilih pemimpin yang tidak memperjuangkan kesejahteraan bersama adalah bentuk pengabaian tanggung jawab sebagai umat beriman.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menegaskan bahwa Gereja harus menjadi "rumah semua orang," dan ini hanya dapat terwujud jika masyarakat dipimpin oleh individu yang berorientasi pada pelayanan, keadilan, dan dialog. Tanpa pemimpin seperti itu, masyarakat berisiko kehilangan arah moral dan spiritual.

Tugas Pemilih Pemula Pada Pemilu Serentak 2024

Sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan sosial, pemilih pemula diharapkan:

1. Meningkatkan Literasi Politik

Pemilih pemula perlu dibekali pengetahuan tentang sistem politik, tugas kepala daerah, dan dampak kebijakan yang diambil. Pendidikan ini bisa dilakukan melalui komunitas, sekolah, atau Gereja.

2. Kritis terhadap Informasi

Gereja mengajak umat untuk tidak mudah percaya pada berita atau informasi yang tidak jelas sumbernya. Prinsip discernment atau penilaian rohani sangat penting agar keputusan diambil berdasarkan kebenaran dan hikmat.

3. Memilih Berdasarkan Nilai-Nilai Kristiani

Pemilih pemula perlu memilih calon yang mempromosikan keadilan sosial, menghormati martabat manusia, dan mengupayakan kesejahteraan bersama. Gereja mengajarkan bahwa politik adalah sarana pelayanan kepada masyarakat, bukan sekadar perebutan kekuasaan (ASG, 565).

Pemilih pemula memegang peran kunci dalam menentukan arah pembangunan daerah melalui Pilkada Serentak 2024. Gereja mengingatkan bahwa memilih adalah tindakan moral yang harus dilakukan dengan tanggung jawab dan kesadaran penuh akan dampaknya terhadap masyarakat luas. Dengan memahami nilai-nilai Kristiani dan mengaplikasikannya dalam proses pemilihan, pemilih pemula dapat menjadi agen perubahan yang mendukung terciptanya tatanan masyarakat yang adil, benar, dan sejahtera.

Saturday, November 9, 2024

Hari Pahlawan Menjadi Momentum Penting Bagi Anggota PMKRI

Hari Pahlawan Menjadi Momentum Penting Bagi Anggota PMKRI


Dalam momentum Hari Pahlawan, kita sebagai anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) diajak untuk merefleksikan kembali makna perjuangan para pahlawan dalam kehidupan kita saat ini. Sebagai anggota PMKRI kita memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan semangat kepahlawanan dalam wujud yang selaras dengan tantangan zaman. Nilai-nilai pengorbanan, keberanian, dan cinta tanah air yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan harus kira wujudkan dalam aksi-aksi nyata yang membawa perubahan positif bagi bangsa Indonesia.

Menjadi anggota PMKRI bukan sekedar status organisasi melainkan sebuah panggilan untuk menjadi “Garam dan Terang” bagi masyarakat Indonesia. Dalam semangat “Serviens In Lumine Veritatis” (Melayani dalam Cahaya Kebenaran), kita dipanggil untuk memperjuangkan keadilan, membela kebenaran, dan membangun kesejahteraan bersama. Moral keberanian untuk menyuarakan kebenaran di tengah ketidakadilan, solidaritas sejati terhadap mereka yang tertindas, dan kecerdasan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa menjadi modal penting bagi setiap anggota PMKRI untuk memberikn kontribusi nyata bagi negeri.

Di era digital dan globalisasi ini, tantangan yang kita hadapin memang berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Namun, esensi perjuangan tetap sama. Sebagai anggota PMKRI, kita dapat mentransformasikan semangat kepahlawanan melalui berbagai aksi nyata seperti Gerakan anti-korupsi, dialog antar iman untuk membangun toleransi, advokasi kebijakan yang pro-rakyat, dan program pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. Dengan berbekal nilai-nilai Katolik yang mengajarkan kita cinta kasih dan pengorbanan.

Momentum Hari Pahlawan sepatutnya menjadi titik tolak bagi setiap anggota PMKRI untuk memperbarui komitmen dalam mengabdi kepada bangsa dan negara, Ingatlah bahwa menjadi pahlawan tidak harus menunggu momen besar atau pengakuan dari orang lain. Dalam keseharian kita sebagai anggota PMKRI, setiap tindakan yang membawa kebaikan bagi sesama adalah wujud nyata semangat kepahlawanan. Dengan tetap berpegang pada prinsip “Pro Ecclesia et Patria” (Untuk Gereja dan Tanah Air), mari kita terus berkarya dan berjuang demi Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera.

Sebagai penutup, marilah kita jadikan peringatan Hari Pahlawan ini sebagai momentum untuk menguatkan solidaritas dan semangat perjuangan di antara seluruh anggota PMKRI. Tantangan zaman yang semakin beragam menuntut kita untuk terus mengasah diri, memperkuat integritas, dan mempertajam kepekaan sosial. Dengan bersatu dalam semangat persaudaraan dan cinta tanah air, kita dapat mewujudkan cita-cita para pahlawan dalam perjuangan masa kini. Mari buktikan bahwa setiap anggota PMKRI adalah penerus bersemangat kepahlawanan, siap memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.


Penulis Sesilia Serlin Mesrawati Hulu




Saturday, October 5, 2024

Pentas Seni Dan Solidaritas GPGM Open Donasi Untuk Musibah Kebakaran Gereja Maranatha

 Pentas Seni Dan Solidaritas GPGM Open Donasi Untuk Musibah Kebakaran Gereja Maranatha 



Palangka Raya- Malam penuh kebersamaan dan solidaritas tersaji dalam kegiatan Panggung Kreasi Open Donasi yang di gelar GPGM atau Gerakan Peduli Gereja Marantha yang dilangsungkan di UPT Taman Budaya Jalan Temanggung Tilung, Kota Palangka Raya pada Sabtu malam 5 Oktober 2024. 

Acara ini diinisiasi sebagai bentuk dukungan dan penggalangan dana untuk musibah kebakaran di Gereja Maranatha. 

Berbagai penampilan seni tari tradisional menghiasi panggung, mulai dari Tari Gelang tradisional Kalimantan Tengah hingga atraksi Lompat Batu dari Nias. 

Kegiatan yang dihadiri oleh masyarakat umum ini, menampilkan keindahan budaya nusantara sebagai wujud kekayaan bangsa sekaligus bentuk solidaritas untuk musibah kebakaran di Gereja maranatha. 

Tari Gelang, dengan gerakan yang anggun dan bertenaga, menampilkan nilai-nilai budaya lokal Dayak yang sarat makna, disisi lain, atraksi Lompat Batu yang spektakuler dari Nias juga ikut memukau penonton. 

Dalam wawancara, Ketua bidang organisasi GMKI Palangka Raya, Fiteli, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas keterlibatan banyak pihak dalam kegiatan yang di inisiasikan tiga lembaga yaitu GMKI Cab. Palangka Raya, PMKRI Cab. Palangka Raya, dan BEM Universitas Kristen Palangka Raya. 

"Acara ini adalah wujud dari Kepeduluian kami sebagai anak kandung gereja terhadap musibah yang dialami oleh Gereja GKE Maranatha, sebelumnya juga kita sudah melakukan koordinasi dengan pihak Gereja dan pihak terkait lainnya, kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tapi juga panggilan kemanusiaan. Saya berharap donasi yang terkumpul dapat membantu pemulihan Gereja Maranatha," ungkap Fiteli. 

Ketua Presidium PMKRI Cabang Palangka Raya, Matius Falentino Jehatud, juga memberikan tanggapannya tentang acara ini.

"Melalui pementasan seni panggung kresasi, kita merayakan keindahan keberagaman budaya sembari menunjukkan solidaritas kepada duka yang terjadi di Gerja Maranatha, Saya percaya, kegiatan ini tidak hanya membantu secara finansial, tapi juga membangun kebersamaan lintas budaya dan agama di Palangka Raya," ujarnya dengan optimis. 

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UKPR, Marselinus Darman, menambahkan  pentingnya acara seperti ini bagi kalangan muda dan mahasiswa.

"Acara ini sangat positif, selain mengangkat kebudayaan nusantara, juga menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial bagi mahasiswa, kami dari UKPR sangat mendukung kegiatan ini dan berharap dapat menjadi momentum untuk terus peduli dan berbagi dengan sukarela, tak lupa saya mengucapkan seluruh masyarakat Kalimantan Tengah secara khusus kota Palangka Raya yang sudah mengambil bagian dengan caranya masing-masing. " kata Marselino. 

Pementasan seni ini melibatkan beberapa pihak yang turun mendukung kegiatan kemanusiaan di antaranya Sanggar riak renteng tingang, Sanggar Antang batuah, Sanggar igal jue, Sanggar betang batarung, Sanggar ruai bajenta, Sanggar tut wuri handayani, Sanggar PMKRI, Sanggar GSKI, PGIW KalTeng, UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, NH Lighting, NHT Pro, Gerdayak, Borneo Print Adv, Kalteng bicara, Indonesia satu com, Info Kalteng, Foto Kalteng, Info palangka raya, Narasi Kalteng, Betang TV.

Penulis :

Ketua Presidium (Matius Valentino Jehatut)

Saturday, September 28, 2024

PMKRI Cabang Palangka Raya Serukan Gerakan Melawan Bullying Terhadap Anak dan Perempuan

 PMKRI Cabang Palangka Raya Serukan Gerakan Melawan Bullying Terhadap Anak dan Perempuan


Tia Malora, selaku Biro Pergerakan Perempuan PMKRI Cabang Palangka Raya, menyerukan gerakan untuk melawan kasus bullying yang terus terjadi terhadap anak-anak dan perempuan di Indonesia, terkhusus di Kalimantan Tengah, angka kasus bullying yang tercatat belakangan ini semakin mengkhawatirkan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang terjadi di Jambi beberapa hari belakangan ini, dimana dari vidio yang beredar seorang remaja perempuan dibuli dan dipaksa merokok oleh sekelompok remaja perempuan lainya, bahkan dalam vidio itu terlihat remaja putri tersebut di jambak dan disiram menggunakan minuman oleh sekelompok remaja putri tersebut. Hal inilah yang memicu keresahan dalam diri Tia, hal itu Ia sampaikan Di Margasiswa PMKRI cabang Palangka Raya Santus Dionisius pada, 28 September 2024.

Menurut Tia, bullying terhadap anak dan perempuan adalah bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang serius. "Di Indonesia, kasus bullying terhadap anak-anak dan perempuan sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Ini adalah masalah serius yang harus kita tangani dengan tegas. Kalimantan Tengah tidak terkecuali, dengan berbagai kasus yang berdampak pada kondisi psikologis dan sosial para korban," tegas Tia.

Tia menambahkan bahwa Kalimantan Tengah menghadapi tantangan khusus karena faktor budaya dan keterbatasan akses terhadap perlindungan hukum serta layanan rehabilitasi bagi korban. "Di beberapa wilayah, korban bullying enggan melapor karena khawatir akan stigma atau ketidakpercayaan dari pihak yang seharusnya melindungi. Ini yang harus kita ubah," ujar Tia.

Melalui Biro Pergerakan Perempuan PMKRI Cabang Plangka Raya, Tia Malora dan timnya tengah mempersiapkan program-program advokasi, seperti penyuluhan tentang bahaya bullying, peningkatan kesadaran di lingkungan masyarakat, serta penyediaan layanan konseling bagi para korban. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat, untuk memperkuat perlindungan hukum bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban bullying.

"Kami menyerukan kepada seluruh pihak, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, sekolah, hingga keluarga, untuk bersatu melawan bullying. Tidak ada tempat bagi kekerasan ini dalam masyarakat kita," ujar Tia Melora.

Tia berharap upaya bersama ini akan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan ramah bagi anak-anak dan perempuan di seluruh Indonesia, khususnya di Kalimantan Tengah.

 "Jika kita tidak bertindak sekarang, dampak jangka panjang dari bullying bisa menghancurkan generasi masa depan. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata," tutup Tia.

Melalu pemberitaan ini PMKRI Cabang Palangka Raya akan menggelar kampanye publik dan mengadakan dialog sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesadaran dan memberdayakan masyarakat dalam melawan bullying.

Penulis :

Biro Pemberdayaan Perempuan (Tia Malora)